Ada banyak orang yang memiliki pandangan berbeda tentang Yesus. Sebagian menganggap-Nya sebagai guru moral, sebagian menyebut-Nya nabi besar, dan ada pula yang mengagumi-Nya sebagai tokoh sejarah. Namun, pertanyaan terpenting bukanlah bagaimana dunia menilai Yesus, melainkan siapa Dia sebenarnya. Sebab, pengenalan yang benar tentang Yesus menentukan dasar iman dan arah kehidupan seseorang.
Dalam Matius 16:13–20, Yesus membawa murid-murid-Nya ke daerah Kaisarea Filipi. Di sana, Ia bertanya tentang pandangan orang banyak mengenai diri-Nya. Ada yang menganggap-Nya Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah seorang nabi. Namun, Yesus kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih pribadi: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16). Jawaban ini bukan sekadar pengakuan bahwa Yesus adalah seorang nabi, melainkan pernyataan iman bahwa Dialah Pribadi yang dijanjikan Allah untuk menyelamatkan umat-Nya.
Sebutan Mesias berasal dari bahasa Ibrani yang berarti Yang Diurapi, sama dengan Kristus dalam bahasa Yunani. Kedatangan-Nya telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Namun, Yesus menggenapi pengharapan tersebut bukan dengan mendirikan kerajaan politik atau membebaskan Israel melalui kekuatan militer, melainkan melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Ia datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan mendamaikan mereka dengan Allah. Karena itu, mengakui Yesus sebagai Mesias berarti percaya kepada-Nya sebagai satu-satunya Juruselamat dan Tuhan.
Pertanyaan Yesus kepada Petrus tetap relevan bagi kita hari ini. Apakah Yesus hanya menjadi bagian dari pengetahuan agama kita, atau sungguh-sungguh menjadi Tuhan yang kita percayai, kasihi, dan taati? Pengakuan iman tidak cukup berhenti pada perkataan, tetapi harus nyata melalui kehidupan yang berpusat pada Kristus.
