Dalam kehidupan sehari-hari, sebuah gelar dapat menunjukkan identitas, kedudukan, dan tanggung jawab seseorang. Demikian juga dengan gelar yang digunakan Yesus untuk menyebut diri-Nya, yaitu Anak Manusia. Gelar ini muncul berulang kali dalam Injil dan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menunjukkan bahwa Yesus adalah manusia. Lalu, mengapa Yesus menggunakan gelar Anak Manusia?
Gelar Anak Manusia memiliki dua penekanan penting dalam Alkitab. Pertama, gelar ini menegaskan kemanusiaan Yesus Kristus. Ia sungguh-sungguh menjadi manusia, mengambil bagian dalam kehidupan manusia, mengalami penderitaan, dan menghadapi kematian. Ia bukan sekadar tampak seperti manusia, melainkan memiliki natur manusia yang sejati, tetapi tanpa dosa.
Kedua, gelar Anak Manusia berkaitan dengan penglihatan nabi Daniel dalam Daniel 7:13–14. Daniel melihat sosok seperti anak manusia datang dengan awan-awan dari langit dan menerima kekuasaan, kemuliaan, serta kerajaan yang kekal. Gambaran ini menunjuk kepada figur surgawi yang memiliki otoritas dan pemerintahan atas segala bangsa. Ketika Yesus menggunakan gelar Anak Manusia, Ia tidak hanya menyatakan kemanusiaan-Nya, tetapi juga mengungkapkan identitas dan otoritas mesianis-Nya.
Dalam Markus 10:45, Yesus menjelaskan bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Di sini kita melihat tujuan kedatangan-Nya: melayani, menderita, mati, dan mengerjakan keselamatan bagi manusia berdosa. Ia adalah Raja yang berkuasa, tetapi juga Hamba yang rela mengorbankan diri.
Karena itu, gelar Anak Manusia memperlihatkan bahwa Yesus adalah Mesias yang memiliki otoritas ilahi sekaligus Juruselamat yang datang dalam kerendahan hati. Sudahkah kita memahami bahwa Yesus datang bukan untuk mencari kemuliaan manusia, melainkan untuk memberikan diri-Nya demi keselamatan kita?
