Pernahkah kita memandang langit yang luas, melihat matahari terbit, atau menyaksikan keindahan alam? Di balik keteraturan dan keindahan ciptaan, manusia dapat merenungkan bahwa alam semesta bukanlah sesuatu yang muncul tanpa tujuan. Segala sesuatu yang diciptakan menunjuk kepada kebesaran Sang Pencipta. Namun, mengenal keberadaan Allah tidak hanya bergantung pada pengamatan terhadap alam, sebab Allah juga menyatakan diri-Nya melalui firman-Nya.
Alkitab memulai kesaksiannya dengan pernyataan yang tegas: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1). Alkitab tidak berusaha membuktikan keberadaan Allah melalui penalaran manusia, melainkan menyatakan bahwa Allah adalah Pribadi yang sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan. Ia tidak berasal dari apa pun, tidak diciptakan, dan tidak bergantung pada ciptaan-Nya. Allah adalah kekal, berdaulat, dan menjadi sumber segala kehidupan.
Mazmur 19 menjelaskan bahwa langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya. Ciptaan menjadi kesaksian tentang kuasa dan kemuliaan Allah. Rasul Paulus juga menyatakan bahwa sifat-sifat Allah yang tidak kelihatan dapat dipahami melalui karya ciptaan-Nya (Roma 1:20). Namun, manusia membutuhkan penyataan Allah untuk mengenal-Nya secara benar. Allah menyatakan diri melalui firman-Nya dan secara khusus melalui Yesus Kristus, yang memperkenalkan Bapa kepada manusia (Yohanes 1:18).
Karena itu, keberadaan Allah bukan sekadar persoalan untuk diperdebatkan, melainkan kebenaran yang seharusnya mengubah cara kita menjalani kehidupan. Jika Allah adalah Pencipta dan Tuhan atas segala sesuatu, maka hidup kita berada di bawah otoritas-Nya. Kita dipanggil untuk menghormati, mengasihi, dan menaati Dia dalam setiap aspek kehidupan. Apakah kehidupan kita sudah mencerminkan keyakinan bahwa Allah benar-benar ada dan berdaulat atas hidup kita?
