Bayangkan seseorang bertanya, apakah Yesus hanya seorang nabi, guru moral, atau manusia luar biasa yang diutus Allah? Pertanyaan ini penting karena pemahaman tentang siapa Yesus menentukan dasar iman Kristen. Jika Yesus hanya manusia biasa, bagaimana mungkin Ia menjadi Juruselamat yang menyelamatkan manusia dari dosa? Alkitab memberikan jawaban yang jelas: Yesus Kristus bukan sekadar manusia, melainkan Allah yang datang ke dunia menjadi manusia.
Injil Yohanes dibuka dengan pernyataan bahwa Firman telah ada sejak semula, bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Kemudian Yohanes 1:14 menyatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Firman yang dimaksud adalah Yesus Kristus. Dengan demikian, Yesus bukan makhluk ciptaan atau pribadi yang baru ada ketika dilahirkan di Betlehem. Ia adalah Pribadi yang kekal dan memiliki hakikat keilahian yang sama dengan Bapa.
Keilahian Yesus juga terlihat melalui berbagai kesaksian Alkitab. Tomas menyebut Yesus, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Yesus juga menyatakan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30). Selain itu, Alkitab menunjukkan bahwa Yesus memiliki kuasa mengampuni dosa, berkuasa atas alam, dan menerima penyembahan. Semua kesaksian ini menegaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah.
Namun, Yesus juga sungguh-sungguh manusia. Ia dilahirkan, mengalami kelelahan, merasakan kesedihan, menderita, dan mati di kayu salib. Dalam satu Pribadi, Ia memiliki dua natur: ilahi dan manusiawi, tanpa tercampur atau terpisah. Inilah kebenaran penting dalam iman Kristen yang menjelaskan mengapa Yesus sanggup menjadi Pengantara dan Juruselamat manusia.
Karena Yesus adalah Allah dan Tuhan, respons kita bukan sekadar mengagumi ajaran-Nya, melainkan percaya, menyembah, dan menaati-Nya. Apakah kita sungguh-sungguh mengakui Yesus sebagai Tuhan atas seluruh kehidupan kita?
