Pernahkah kita menerima janji dari seseorang yang sangat kita nantikan penggenapannya? Ketika janji itu belum terwujud, kita mungkin bertanya-tanya apakah janji tersebut benar-benar akan ditepati. Dalam sejarah bangsa Israel, umat Allah juga hidup dengan pengharapan akan kedatangan seorang Mesias. Mereka menantikan Pribadi yang dijanjikan Allah untuk membawa keselamatan, pemulihan, dan pemerintahan yang benar.
Istilah Mesias berasal dari bahasa Ibrani Mashiach, yang berarti Yang Diurapi. Dalam Perjanjian Lama, Allah menyatakan janji tentang kedatangan Mesias melalui berbagai nubuat. Nubuat-nubuat tersebut tidak hanya berbicara tentang seorang pemimpin politik, tetapi menunjuk kepada Pribadi yang akan menggenapi rencana keselamatan Allah. Melalui berbagai nabi dan tulisan Kitab Suci, Allah secara bertahap menyatakan identitas, karya, dan pemerintahan Mesias yang akan datang.
Yesaya 9:1–6 menubuatkan seorang Anak yang akan lahir dan menerima pemerintahan dengan gelar Raja Damai. Mikha 5:1 menyebut Betlehem sebagai tempat asal seorang penguasa yang akan memerintah Israel. Yesaya 53 menggambarkan Hamba Tuhan yang menderita dan menanggung kesalahan banyak orang. Sementara itu, Zakharia 9:9 menggambarkan seorang Raja yang datang dengan rendah hati, mengendarai seekor keledai. Dalam Perjanjian Baru, berbagai nubuat ini dipahami sebagai penggenapan dalam diri Yesus Kristus.
Kelahiran, pelayanan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa janji Allah tentang Mesias bukan sekadar harapan manusia. Yesus adalah Kristus yang dijanjikan, yang datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan mendamaikan manusia dengan Allah. Melalui Dia, rencana keselamatan Allah dinyatakan kepada dunia.
Mempelajari nubuat Mesias menolong kita melihat kesatuan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Seluruh sejarah keselamatan mengarahkan perhatian kita kepada Kristus. Sudahkah kita membaca Alkitab dengan melihat bagaimana janji-janji Allah digenapi dalam Yesus Kristus?
