SIAPAKAH ABRAHAM?

Rating 0 (0 Votes)
Diterbitkan hari Saturday, 07 November 2026 15:20
Ditulis oleh Admin
Dibaca: 4 kali
Baca: Kejadian 12:1-9

"“Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia.” (Kejadian 12:4)"

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 12-15

Dalam kehidupan, tidak semua perjalanan dapat dimulai dengan kepastian tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Ada kalanya seseorang harus meninggalkan kenyamanan, menghadapi ketidakpastian, dan melangkah hanya berdasarkan kepercayaan kepada janji yang diterimanya. Situasi seperti ini membutuhkan iman dan keberanian. Gambaran tersebut terlihat dalam kehidupan Abraham, seorang tokoh penting dalam Alkitab yang dikenal karena imannya kepada Allah.

Abraham, yang sebelumnya bernama Abram, berasal dari Ur-Kasdim. Allah memanggilnya untuk meninggalkan negeri, kaum keluarga, dan rumah bapanya menuju negeri yang akan ditunjukkan-Nya. Allah juga memberikan janji bahwa Abraham akan menjadi bangsa yang besar, menerima berkat, dan melalui dirinya semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kejadian 12:1–3). Menariknya, Abraham tidak mengetahui secara terperinci seluruh perjalanan yang akan dihadapinya. Namun, ia memilih menaati panggilan Allah. Ketaatannya menunjukkan bahwa iman bukan sekadar mengetahui janji Tuhan, melainkan bersedia melangkah berdasarkan firman-Nya.

Perjalanan Abraham tidak selalu berjalan mudah. Ia pernah menghadapi kelaparan, mengalami ketakutan, dan menantikan kelahiran anak yang dijanjikan Allah selama bertahun-tahun. Bahkan, ketika usianya semakin lanjut, janji tentang keturunan tampak mustahil secara manusiawi. Namun, Kejadian 15:6 mencatat bahwa Abraham percaya kepada TUHAN, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Peristiwa ini menjadi dasar penting dalam memahami iman, sebagaimana kemudian dijelaskan oleh Rasul Paulus dalam Roma 4. Abraham bukan manusia tanpa kelemahan, tetapi ia belajar bergantung pada kesetiaan Allah.

Kehidupan Abraham mengajarkan bahwa iman sejati tidak selalu disertai pemahaman yang lengkap tentang masa depan. Yang terpenting adalah mengenal Allah yang memberikan janji dan tetap setia kepada firman-Nya. Ketika Tuhan memanggil kita untuk melangkah dalam ketaatan, apakah kita bersedia mempercayai-Nya sekalipun belum mengetahui seluruh jalan yang terbentang di depan?

—Admin
IMAN SEJATI BUKAN TENTANG MENGETAHUI SELURUH MASA DEPAN, MELAINKAN MEMERCAYAI ALLAH YANG MEMEGANG MASA DEPAN

Tinggalkan Komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar yang disetujui.