Dalam kehidupan, manusia sering menilai seseorang berdasarkan penampilan, kekayaan, pendidikan, kedudukan, atau kemampuan yang terlihat. Orang yang sederhana terkadang dianggap tidak memiliki potensi besar, sedangkan mereka yang memiliki penampilan menarik sering mendapat perhatian lebih. Namun, cara Allah melihat manusia berbeda dengan penilaian dunia. Hal ini terlihat jelas dalam pemilihan Daud sebagai raja Israel.
Daud adalah anak bungsu Isai dari Betlehem. Sebelum menjadi raja, ia bekerja sebagai gembala yang menjaga kawanan domba ayahnya. Ketika Allah menolak Saul sebagai raja, Tuhan mengutus Samuel ke rumah Isai untuk mengurapi salah seorang anaknya. Samuel sempat mengira bahwa Eliab, anak sulung Isai, adalah orang yang dipilih Tuhan karena penampilannya. Namun, Allah mengingatkan bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, sedangkan Tuhan melihat hati. Akhirnya, Daud dipanggil dari padang penggembalaan dan diurapi menjadi raja. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pilihan Allah tidak ditentukan oleh ukuran dan penilaian manusia.
Nama Daud semakin dikenal ketika ia menghadapi Goliat, seorang pendekar Filistin yang menakutkan seluruh tentara Israel. Dengan iman kepada Allah, Daud maju menghadapi Goliat bukan dengan pedang atau perlengkapan perang yang lengkap, melainkan dengan umban dan batu. Ia percaya bahwa kemenangan berasal dari Tuhan (1 Samuel 17). Namun, kehidupan Daud bukan tanpa kegagalan. Ketika menjadi raja, ia jatuh dalam dosa perzinaan dengan Batsyeba dan merencanakan kematian Uria. Meskipun demikian, ketika ditegur Nabi Natan, Daud mengakui dosanya dan bertobat. Hidupnya memperlihatkan bahwa seorang yang dipilih Allah tetap membutuhkan kerendahan hati dan pertobatan.
Dari kehidupan Daud, kita belajar bahwa Allah mencari hati yang mau percaya, taat, dan kembali kepada-Nya ketika jatuh dalam dosa. Apakah kita lebih sibuk membangun penampilan di hadapan manusia atau sungguh-sungguh membentuk hati yang berkenan kepada Tuhan?
