SIAPAKAH MARIA?

Rating 5 (1 Votes)
Diterbitkan hari Saturday, 07 November 2026 16:03
Ditulis oleh Admin
Dibaca: 6 kali
Baca: Lukas 1:26-38

"“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)"

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 1-2

Dalam kehidupan, menerima tanggung jawab besar sering kali membuat seseorang merasa takut dan tidak siap. Terlebih ketika tanggung jawab tersebut membawa perubahan besar yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Namun, iman mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak selalu dimulai dengan memahami seluruh rencana-Nya. Terkadang, ketaatan justru berarti bersedia mempercayai Tuhan sekalipun jalan yang akan ditempuh belum sepenuhnya diketahui. Sikap inilah yang terlihat dalam kehidupan Maria, ibu Yesus.

Maria adalah seorang perempuan muda dari Nazaret yang bertunangan dengan Yusuf, seorang keturunan Daud. Ketika malaikat Gabriel datang menyampaikan kabar bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang harus dinamai Yesus, Maria tentu menghadapi sesuatu yang sulit dipahami. Ia bertanya bagaimana hal itu dapat terjadi karena ia belum bersuami. Malaikat Gabriel menjelaskan bahwa Roh Kudus akan turun atasnya dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaunginya. Anak yang dilahirkannya akan disebut kudus, Anak Allah. Mendengar penjelasan tersebut, Maria menunjukkan sikap iman dan penyerahan diri dengan berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).

Ketaatan Maria bukan berarti ia tidak menghadapi kesulitan. Kehamilan sebelum hidup bersama Yusuf berpotensi menimbulkan persoalan sosial dan hubungan keluarga. Namun, Maria memilih mempercayai janji Allah. Ia juga menunjukkan kerendahan hati melalui pujiannya dalam Lukas 1:46–55, yang dikenal sebagai Magnificat. Dalam pujian itu, Maria mengakui kebesaran Allah, kemurahan-Nya, dan kesetiaan-Nya terhadap janji kepada umat-Nya. Meskipun mendapat kehormatan menjadi ibu Yesus, Maria tetap menyadari bahwa keselamatan berasal dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.

Kehidupan Maria mengajarkan bahwa iman sejati diwujudkan melalui kerendahan hati, ketaatan, dan kesediaan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan. Apakah kita bersedia menaati firman Allah sekalipun kehendak-Nya berbeda dari rencana dan kenyamanan pribadi kita?

—Admin
IMAN SEJATI TERLIHAT KETIKA KITA BERSEDIA MENYERAHKAN KEHENDAK PRIBADI KEPADA KEHENDAK ALLAH

Tinggalkan Komentar

Komentar (0)

Belum ada komentar yang disetujui.