Dalam kehidupan, seseorang terkadang merasa tidak layak ketika menerima tanggung jawab yang besar. Ia mungkin merasa kurang mampu, tidak memiliki pengalaman, atau takut menghadapi tantangan. Namun, Allah tidak selalu memilih orang berdasarkan kemampuan yang terlihat oleh manusia. Kisah Musa memperlihatkan bahwa Allah dapat memakai seseorang dengan segala keterbatasannya untuk melaksanakan rencana-Nya.
Musa adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah keselamatan Israel. Ia dilahirkan ketika bangsa Israel sedang mengalami penindasan di Mesir. Karena perintah Firaun untuk membunuh setiap bayi laki-laki Ibrani, ibunya menyembunyikannya selama tiga bulan. Setelah itu, Musa diletakkan dalam sebuah peti pandan di tepi Sungai Nil dan ditemukan oleh putri Firaun. Ia kemudian dibesarkan di lingkungan istana Mesir. Namun, setelah membunuh seorang Mesir yang memukul orang Ibrani, Musa melarikan diri ke tanah Midian dan hidup sebagai gembala.
Di tanah Midian, Allah memanggil Musa melalui peristiwa semak duri yang menyala tetapi tidak terbakar (Keluaran 3). Allah menyatakan bahwa Ia telah melihat penderitaan umat-Nya dan mendengar seruan mereka. Musa kemudian diutus untuk menghadap Firaun dan memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan. Menariknya, Musa justru merasa tidak sanggup menjalankan tugas tersebut. Ia mempertanyakan kemampuannya berbicara dan menghadapi Firaun. Namun, Allah menjawab, “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (Keluaran 3:12). Jawaban ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelayanan Musa tidak bergantung pada kekuatannya sendiri, melainkan pada penyertaan Allah.
Kehidupan Musa mengajarkan bahwa panggilan Allah sering kali melampaui kemampuan manusia. Allah tidak menuntut kita mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi menghendaki ketaatan dan kepercayaan kepada-Nya. Ketika menghadapi tanggung jawab dan panggilan dalam kehidupan, apakah kita lebih sibuk memikirkan keterbatasan diri atau belajar mengandalkan penyertaan Tuhan?
