Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mengenal seseorang melalui perkataan, tindakan, dan hubungan yang dibangun dengannya. Namun, mengenal seseorang secara mendalam membutuhkan lebih dari sekadar mendengar cerita tentang dirinya. Demikian juga dengan iman Kristen. Kita tidak cukup hanya mengetahui berbagai kisah tentang Yesus, tetapi perlu mengenal siapa Dia sesungguhnya. Injil Yohanes secara khusus menolong kita memahami identitas, keilahian, dan karya Yesus Kristus.
Injil Yohanes dibuka dengan pernyataan yang sangat mendalam: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai Firman yang telah ada sejak kekekalan, yang bersama-sama dengan Bapa dan memiliki hakikat keilahian. Kemudian, Firman itu menjadi manusia dan tinggal di antara manusia. Dengan demikian, Yesus bukan sekadar guru moral, nabi, atau tokoh agama, melainkan Allah yang datang ke dunia dalam rupa manusia.
Sepanjang Injil Yohanes, identitas Yesus dinyatakan melalui berbagai tanda dan pengajaran-Nya. Ia mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, memberi makan lima ribu orang, membangkitkan Lazarus, dan menyatakan diri sebagai Gembala yang baik serta kebangkitan dan hidup. Pernyataan-pernyataan seperti “Akulah roti hidup”, “Akulah terang dunia”, dan “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya sumber kehidupan dan keselamatan. Tujuan penulisan Injil ini ditegaskan dalam Yohanes 20:31, yaitu supaya pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Mengenal Yesus melalui Injil Yohanes seharusnya membawa kita kepada iman yang sungguh-sungguh, bukan sekadar pengetahuan. Kita dipanggil untuk percaya kepada-Nya, mengikuti firman-Nya, dan hidup dalam kasih serta kebenaran. Apakah kita sungguh-sungguh mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, atau hanya mengetahui tentang Dia?
