Dalam kehidupan sehari-hari, kesatuan sering kali dipahami sebagai kesamaan tujuan, pikiran, atau tindakan. Dua orang dapat bekerja bersama karena memiliki tujuan yang sama, tetapi mereka tetap merupakan pribadi yang berbeda. Namun, ketika Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu,” perkataan-Nya mengandung makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kesamaan kehendak atau pekerjaan. Pernyataan ini menyatakan hubungan yang unik antara Yesus dan Allah Bapa.
Perkataan tersebut disampaikan ketika Yesus berada di Serambi Salomo, dalam perayaan Hari Raya Pentahbisan Bait Allah. Orang-orang Yahudi mendesak-Nya untuk menyatakan dengan terus terang apakah Dia adalah Mesias. Yesus menjelaskan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya dalam nama Bapa memberikan kesaksian tentang siapa diri-Nya. Ia juga menegaskan bahwa domba-domba-Nya mendengarkan suara-Nya, Ia mengenal mereka, dan memberikan hidup yang kekal kepada mereka. Tidak seorang pun dapat merebut mereka dari tangan-Nya. Bahkan, Ia menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Dalam konteks inilah Yesus menyatakan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30).
Pernyataan ini menjadi salah satu dasar penting dalam memahami doktrin Tritunggal. Yesus bukanlah Bapa, sebab Bapa dan Anak adalah dua Pribadi yang berbeda. Namun, keduanya memiliki hakikat keilahian yang sama. Kesatuan Yesus dengan Bapa bukan sekadar kesepakatan atau kerja sama, melainkan kesatuan dalam keilahian. Karena itu, Yesus bukan sekadar utusan Allah atau guru rohani, melainkan Allah Anak yang datang ke dunia untuk menyatakan Bapa dan menyelamatkan manusia.
Kebenaran ini mengingatkan kita bahwa iman Kristen berpusat pada Kristus. Mengenal Yesus berarti mengenal Allah yang menyatakan diri-Nya melalui Sang Anak. Apakah kita sungguh mengenal Yesus sebagai Tuhan dan mempercayakan seluruh kehidupan kita kepada-Nya?
