Bayangkan seseorang tersesat di tengah perjalanan dan tidak mengetahui jalan pulang. Ia dapat bertanya kepada banyak orang, mencoba berbagai arah, tetapi tanpa petunjuk yang benar, ia tetap berisiko tersesat. Demikian pula kehidupan manusia di hadapan Allah. Dosa telah merusak hubungan manusia dengan Penciptanya. Berbagai usaha, perbuatan baik, dan pencapaian manusia tidak dapat dengan sendirinya menghapus dosa atau mendamaikan manusia dengan Allah. Manusia membutuhkan seorang Juruselamat.
Dalam Yohanes 14, Yesus sedang menghibur murid-murid-Nya menjelang penderitaan dan kematian-Nya. Para murid merasa gelisah karena Yesus berbicara tentang kepergian-Nya. Ketika Tomas bertanya tentang jalan menuju tempat yang dijanjikan-Nya, Yesus memberikan jawaban yang sangat mendasar: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Pernyataan ini bukan sekadar menunjukkan bahwa Yesus mengetahui jalan menuju Allah, melainkan bahwa Dialah satu-satunya jalan untuk datang kepada Bapa. Keselamatan bukan diperoleh melalui kemampuan manusia, melainkan melalui karya penebusan Kristus.
Kebenaran ini ditegaskan kembali oleh Petrus ketika ia berkata bahwa keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 4:12). Yesus datang ke dunia, menanggung hukuman dosa melalui kematian-Nya di kayu salib, dan bangkit mengalahkan maut. Karena itu, keselamatan adalah anugerah Allah yang diterima melalui iman kepada Kristus, bukan hasil usaha atau jasa manusia. Mengakui Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat juga berarti tidak menggantungkan pengharapan kekal pada kekuatan, kekayaan, agama, atau kebaikan diri sendiri.
Di tengah dunia yang menawarkan berbagai jalan keselamatan, apakah kita sungguh-sungguh menaruh kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dan Tuhan dalam kehidupan kita?
